Tafsir Al-Qur’an Al-Karim

SURAT AN-NISA’ 79al2.jpg

Ayat 79

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولا وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, Maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. dan cukuplah Allah menjadi saksi.”

Di sini Tuhan menyebut engkau, bukan hanya ditujukan kepada Rasul saja, melainkan kepada diri tiap-tiap orang yang mukallaf. Rasul hanya jadi perantara untuk menyampaikan. Yaitu bahwasanya nikmat dan rahmat Allah cukuplah diberikan kepada manusia di ala mini. Tidak ada yang kurang. Sehingga pada asalnya, semuanya adalah baik. Tuhan tidak memberikan yang buruk. Bahkan telah banyak ayat-ayat yang menerangkan bahwa segala sesuatu di alam ini disediakan untuk manusia. Apalagi manusia diberi akal dan disuruh berusaha. Maka jika manusia gagal, maka itu adalah dari diri manusia itu sendiri. Baik karena kesia-siaan, atau masih belum tahu dan belum berpengalaman. Yang terlebih-lebih wajib dijaga oleh manusia adalah supaya dia mensyukuri nikmat Allah.

Kesalahan yang paling besar ialah kalau tidak mensyukuri nikmat. Jiwamu “terbelakang” walaupun telah berlimpah nikmat Allah kepada kamu, namun oleh karena kamu tidak mengenal apa yang disebut dengan syukur nikmat, kamu akan tetap mengeluh. Oleh karena itu janganlah menimpakan kesalahan kepada orang lain, tetapi selidikilah penyakit yang ada dalam jiwamu sendiri.

“Dan kami telah utus kepada manusia seorang rasul.” Maka Rasul itu telah mengajarkan kepada kamu jalan yang baik, cita-cita yang mulia mnegeluarkan kamu dari gelap gulita kepada terang benderang. Selamatlah kamu kalau ajarannya kamu ikuti dan sengsaralah kamu karena tidak menaatinya, bahkan masih meragukan, dan mengeluh.

“Dan cukuplah Allah sebagai penyaksi.” Artinya cukuplah Allah yang menjadi saksi, wahai utusanKu! Allah menjadi saksi bahwa amanat itu telah engkau tunaikan dengan baik. Yaitu memimpin manusia menuju jalan yang benar. Malah penderitaan engkau lebih banyak dan engkau teguh hati, pantang mundur sehingga senanglah Allah menyaksikan segala gerak-gerikmu. Dan tuduhan si lemah iman bahwa jika mereka ditimpa kesusahan, adalah sebab kesalahanmu, tidak lain hanyalah karena kebodohan dan kedangkalan berfikir mereka juga adanya.[1]

Sedangkan dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Quthub menghubungkan ayat 79 an-Nisa’ ini dengan persoalan “qadha’ dan “qadar” atau “jabar” dan “ikhtiyar”. Sesungguhnya Allah telah membuat manhaj (aturan), membuat jalan, menunjukkan kepada kebaikan, dan melarang keburukan. Maka apabila manusia mengikuti manhaj, menempuh jalan ini, berusaha melakukan kebaikan, dan menjauhi keburukan, niscaya Allah akan menolongnya untuk mendapatkan petunjuk sebagaimana firman-Nya: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami …” (al-‘Ankabut : 69).

Apabila manusia tidak mengikuti manhaj yang telah dibuat Allah, maka ketika itu dia mendapatkan kejelekan yang sebenarnya, baik di dunia maupun di akhirat. Dan kejelekan ini adalah dari dirinya sendiri.[2]

Terwujudnya kebaikan dan kejelekan itu tidak lain kecuali dengan kekuasaan dan qadar Allah, karena dialah yang mengadakan segala sesuatu, yang mengadakan segala yang terjadi, dan menciptakan segala yang ada apa pun kehendak dan tindakan orang yang bersangkutan terhadap apa yang terjadi itu.

Sedangkan urusan manusia terhadap Rasul ialah bahwa orang yang taat kepada Rasul berarti taat kepada Allah swt. Maka ia tidak memisahkan antara Allah dan Rasul-Nya; antara firman Allah dan sabda Rasul-Nya. Bagi orang yang berpaling dan mendustakan, urusan hijab dan pembalasannya terserah kepada Allah.[3]

SURAT AL-AN’AM

Ayat 22

وَيَوْمَ نَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ نَقُولُ لِلَّذِينَ أَشْرَكُوا أَيْنَ شُرَكَاؤُكُمُ الَّذِينَ كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ

“Dan (ingatlah), hari yang di waktu itu Kami menghimpun mereka semuanya kemudian Kami berkata kepada orang-orang musyrik: “Di manakah sembahan-sembahan kamu yang dulu kamu katakan (sekutu-sekutu) kami?”.

Kalaupun di dunia ini mereka belum merasakan akibat penganiayaan itu, maka suatu ketika pasti mereka akan menyesal, yakni pada hari kiamat nanti. Kerena itu ingatlah, kebohongan mereka terhadap Allah di dunia ini, ingatlah itu pada hari yang di waktu itu Kami menghimpun mereka semua secara paksa dan dalam keadaan hina dina, baik Ahl al-Kitab maupun kaum musyrik serta apa yang mereka persekutukan dengan Allah, berhala-berhala, kemudian Kami melalui para malaikat berkata kepada orang-orang musyrik yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu, baik berhala, manusia, maupun cahaya atau gelap, bahkan sembahan apa saja: Di manakah sembahan-sembahan kamu yang dulu kamu kira dan akui secara lisan dan pengalaman sebagai sekutu-sekutu Kami? Mintalah kepada mereka agar membantu dan menyelamatkan kamu dari siksa yang sedang dan akan kamu hadapi. Sungguh aneh sikap mereka ketika itu lagi jauh dari apa yang dapat dibayangkan, sebagaimana dipahami dari kata kemudian. Betapa tidak aneh, pada hari terbukanya segala tabir dan tersingkapnya segala kebohongan, mereka tetap berbohong. Hal ini dikarenakan ketika itu pikiran mereka demikian kacau sehingga tiadalah fitnah mereka yakni jawaban dan ucapan ngawur yang tidak berdasar dari mereka, kecuali mengatakan: Demi Allah, Tuhan kami, demikian mereka berbohong dengan berkata kami tidak mempersekutukan Allah. Bukankah ketika di dunia mereka mempersekutukan-Nya?[4]

Ayat ini dapat juga dihubungkan dengan yang lalu dengan menjadikan ayat di atas sebagi jawaban dari satu pertanyaan yang timbul dalam benak siapa yang mendengar ayat yang lalu menyatakan bahwa tidak berbahagia orang-orang yang zalim. Seakan-akan ada yang bertanya: bagaiman mereka tidak akan bahagia? Pertanyaan ini jawabnya: itu disebabkan karena kelak di Hari Kemudian Allah akan menggiring mereka ke Padang Mahsyar dan meminta pertanggungjawaban atas dosa-dosa mereka, khususnya menyangkut persekutuan terhadap Allah.

Seperti terbaca di atas kata جَمِيعًا semua, mencakup penyembah dan yang disembah selain Allah. Itu sebabnya lanjutan ayat menyatakan kemudian kami berkata kepada orang-orang musyrik, bukan menyatakan Kami berkata kepada mereka. Dihimpunnya yang disembah dan penyembah ditegaskan pula dalam Q.S. as-Shaffat : 22 (kepada malaikat diperintahkan): “kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta mereka dan sembahan-senbahan yang selalu mereka sembah.”

Dihimpunnya para sembahan-sembahan itu, untuk lebih menampakkan kehinaan dan kerendahan serta ketidakberdayaan mereka, untuk membuktikan bahwa walau sembahan-sembahan itu hadir di hadapan mereka, namun mereka sedikit pun tidak dapat membantu, bahkan mereka berlepas diri dari apa yang dilakukan sembahan-sembahanny itu demikian juga para penyembahnya. Dalam ayat lain dikemukakan bahwa Isa as. pun dihimpun bersama umatnya (baca QS. al-Maidah : 116) bahkan setan pun diperlakukan demikian.

Kata ثم kemudian, pada firman-Nya Kemudian kami berkata kepada orang-orang musyrik untuk mengisyaratkan jarak penantian yang cukup lama antara keberadaan orang-orang musyrik dan sembahan mereka di Padang Mahsyar, dengan perkataan/pertanyaan yang diajukan kepada mereka. Jarak waktu penantian itu, menjadikan mereka lebih sekaligus menunjukkan betapa mereka tidak diperhatikan bahakan diabaikan begitu lama, untuk lebih menghina dan melecehkan mereka.[5]

klik di sini

Published in: on Desember 30, 2007 at 4:36 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://mesw.wordpress.com/2007/12/30/tafsir-al-quran-al-karim/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: